"""
Minimal Deposit Rp. 20.000 | Cs Yang Ramah & Inspiratif Siap membantu 24 Jam | Proses Depo & WD Dengan Mudah Tanpa Ribet dan Tercepat - Contact www.KartuZoya.Net | BBM: 2BE5BC31

Rabu, 07 Februari 2018

Ada Youtube dan Layanan Streaming, Apa Kabar Televisi?


Era digital seperti saat ini, memang telah memberikan banyak kemudahan pada masyarakat. Termasuk dalam urusan menonton tayangan hiburan, baik film atau pun serial.

Terlebih juga sekarang semakin banyak penyedia layanan streaming dan media sosial yang menampilkan berbagai macam konten hiburan yang cukup digandrungi kaum muda. Soal jumlah dan jenis tayangan yang ditampilkan tidak perlu ditanyakan lagi. Baik layanan streaming atau pun media sosial seperti Youtube saat ini memiliki setidaknya sekitar 10.000 konten tontonan yang bisa diakses kapanpun dimanapun.


Tentu ini memberikan banyak pilihan pada masyarakat dalam hal menikmati konten tontonan yang mereka inginkan. Lalu, bagaimana dengan nasib televisi saat ini? Bagaimana dengan program-program hiburan yang ditayangkan oleh stasiun televisi lokal? Siapa saja pemirsa mereka?

Semua pertanyaan diatas, mungkin tidak akan terjawab tuntas dalam artikel ini.

Namun, tidak ada salahnya jika kita sedikit mengulas seperti apa perkembangan platform digital dan media sosial saat ini serta bagaimana pengaruhnya bagi media konvensional seperti televisi.

Pertumbuhan angka viewership Youtube


Di awal tahun lalu, Youtube mengumumkan bahwa para penggunanya di seluruh dunia menghabiskan 1 miliar jam setiap hari untuk menonton video. Meski masih terpaut jauh dibandingkan TV yang disaksikan selama 1,25 miliar jam di wilayah Amerika Serikat, namun menurut data Nielsen di periode yang sama seperti dilansir CNBC, angka viewership Youtube itu sudah meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan lima tahun sebelumnya pada 2012. Durasi waktu menonton di Youtube juga cenderung terus meningkat, sementara TV sebaliknya.

Menonton siaran televisi sekarang bisa secara streaming

Istilah “menonton televisi” biasanya diasosiasikan dengan praktik duduk manis sambil memegang remot. Jika ada tayangan tertentu yang diminati, kita akan menunggu jam tayang tertentu pula. Kini, perkembangan teknologi komunikasi membuat pemahaman tradisional tersebut harus digeser. Saat ini, orang memposisikan televisi sama seperti buku, bisa dibuka atau dibaca kapan saja di mana saja.

Menurut Ishadi SK, Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), menonton siaran televisi secara streaming memang menjadi pilihan bagi kaum muda.

“Empat puluh persen anak muda tidak menonton siaran televisi melalui televisi fisik, tapi melalui gawai mereka,” jelasnya.

Menonton televisi tanpa iklan

Pengalaman Netflix bisa dijadikan contoh untuk melihat bagaimana perubahan pemaknaan terhadap televisi – dari mulai model bisnis, isi siaran televisi, sampai perilaku warga menonton televisi – bisa demikian dramatis.

Tahun 2007, Netflix mulai menjalankan model layanan streaming. Tayangan televisi atau film yang bekerja sama dengannya bisa diakses langsung dari komputer personal. Michael Wolff, penulis buku Television is the New Television: The Unexpected Triumph of Old Media in Digital Age (2015) menyebut bahwa Netflix merupakan pembunuh televisi tradisional.

Salah satu yang membuatnya unggul dari televisi konvensional adalah tidak adanya iklan yang mengganggu ketika pemirsa sedang menyaksikan tayangan tertentu. Pendapatan yang dihasilkan mereka peroleh dari biaya berlangganan penonton. Hal inilah yang menjadikan Netflix juga memunculkan model bisnis baru di industri penyiaran.

Hal ini juga yang dilakukan oleh VIVA sebagai media online yang terus bertumbuh di era digital. Sebagai salah satu platform digital yang menyediakan berbagai macam konten berita dan hiburan, VIVA menyediakan kemudahan untuk mengakses siaran televisi dari tvOne dan ANTV secara streaming yang bisa dinikmati oleh pembacanya.

Para pembaca VIVA dapat menikmati program-program siaran televisi dari tvOne atau akses eksklusif ke program-program unggulan ANTV untuk menikmati tontonan favorit kapanpun dimanapun tanpa iklan.

Anda bisa merasakan pengalaman baru menonton program sinetron unggulan ANTV, seperti Jodoh Wasiat Bapak, Kecil-Kecil Mikir Jadi Manten, Cantik-cantik Kucing Dapur, atau Tuyul & Mba Yul secara eksklusif dengan mengunduh aplikasi VIVA di ponsel Anda.

Kelaparan-Kelaparan Tersembunyi



Jakarta - "Hidden hunger is a state of chronic malnutrition, whereby one's very last energy reserves are not utilized to search for food, but rather are 'saved' (Hans Konrad Biesalki, Hidden Hunger, 2013).

Sebuah pentas musik kontemporer bertajuk Sagu (Da') vs Sawit karya Septina Rosalina Layan digelar pada 6–7 Juni 2017 di Waena, Jayapura, Papua. Karya peraih Hibah Cipta Perempuan 2017 ini adalah refleksi atas keprihatinannya terhadap semakin langkanya sagu sebagai makanan pokok di Papua akibat kian meluasnya lahan perkebunan kelapa sawit. Padahal, tanah Papua sangat cocok untuk pembudidayaan tanaman sagu. Menurut pakar sagu Nadirman Haska, dari total 2,2 juta ha lahan sagu dunia, 1,4 juta ha di antaranya berada di Indonesia. Papua sendiri memiliki lahan sagu seluas 1,2 juta ha. Artinya, 90 % potensi sagu nasional tersimpan di Papua atau menyimpan hampir 50 % potensi sagu dunia. Namun, dari luas lahan sagu yang ada di Papua itu sendiri, justru baru sekitar 5 % saja dimanfaatkan oleh masyarakat Papua.

Itu baru sagu. Alih fungsi lahan pangan lokal menjadi lahan-lahan padi pun membuat pelik masalah. Masyarakat Papua yang dalam sejarah dan tradisi konsumsi pangannya sangat bergantung pada ubi dan sagu, mulai terbiasa mengkonsumsi nasi seiring dengan kebijakan pangan pemerintah yang berorientasi pada beras. Ancaman nyata beras terhadap pangan lokal di Papua mulai tampak sejak dasawarsa 1970-an ketika rezim Orde Baru mulai menggulirkan program Swasembada Beras. Puncaknya terjadi pada akhir 1990-an, ketika beras telah menjadi konsumsi pokok masyarakat Papua, bukan hanya mereka yang bermukim di perkotaan melainkan juga di pedalaman.




Pengetahuan masyarakat Papua terhadap arti penting pangan lokal dalam keseharian hidupnya perlahan-lahan mulai terputus. Jelas ini mengkhawatirkan jika menyimak pernyataan botanis dari Universitas Wageningen (Belanda), Chr. Versteegh, ketika ia melakukan penelitian kekayaan flora di Papua sepanjang tahun 1950an–1960an. Menurutnya, pengetahuan masyarakat Papua terhadap sistem perkebunan seperti ubi kayu telah maju dibandingkan sistem pertanian kolonial Belanda yang pernah dikembangkan di Manokwari.

Wajar jika pada 10 Mei 2016, Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah menyatakan bahwa wilayah Papua tidak cocok untuk pengembangan tanaman semusim seperti padi. Sebaliknya, yang cocok adalah tanaman perkebunan dengan masa tanam panjang. Namun pernyataannya justru bertolak-belakang dengan kebijakan pangan Presiden Joko Widodo sendiri yang pada Mei 2015 mendukung konversi lahan seluas 1,2 juta ha untuk program The Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

MIFEE merupakan kelanjutan dari program Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) yang dimulai pada 2006 pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Apa yang terjadi dari pelaksanaan program MIRE dan MIFEE tak lebih membuahkan hilangnya kawasan hutan, ekosistem, potensi pangan lokal, serta tersingkirnya penduduk lokal dari tanahnya sendiri. Inilah salah satu akar dari cikal-bakal pergeseran konsumsi pangan lokal yang dalam jangka panjang bakal mengikis memori kolektif masyarakat Papua terhadap kekayaan potensi pangan lokalnya.

Lantas, apakah dalam jangka pendek program-program pangan pemerintah telah memenuhi kesejahteraan fisik masyarakat Papua sendiri? Kesejahteraan tak bisa dipukul rata, bahkan tak seluruh berbuah baik ketika terjadi kasus kelaparan dan gizi buruk massal di Asmat yang ramai diberitakan media beberapa pekan terakhir. Kementerian Sosial mencatat, sejak September 2017 hingga Januari 2018 ada 63 anak meninggal akibat campak dan gizi buruk, 393 jiwa menjalani rawat jalan, dan 175 menjalani rawat inap. Meski sudah mulai terjadi sejak September tahun lalu, peristiwanya baru ramai diberitakan sekarang. Artinya, ada kasus-kasus kelaparan tersembunyi di Bumi Cendrawasih yang tidak/belum diketahui. Ironisnya, meski terhitung banyak jumlah korban, tapi sebagai sebuah isu nasional, peristiwanya lekas terlupakan.

Ini mengingatkan saya pada bencana kelaparan di Kabupaten Yahukimo di kaki Pegunungan Jayawijaya pada 2009 silam –yang juga terlupakan. Dalam investigasi Tempo 15 November 2009 bertajuk Ada Apa dengan Langda, tercatat sejak Januari hingga Agustus 2009, ada 92 orang meninggal karena kelaparan. Ternyata bukan hanya di tahun itu. Pada 2005 bencana kelaparan sudah terjadi di Yahukimo. Tercatat ada 55 jiwa yang meregang nyawa akibat kelaparan saat itu. Bahkan pada dasawarsa 1980-an hingga 1990-an kelaparan-kelaparan tersembunyi di Yahukimo sudah terjadi. Pada Maret–Agustus 1984 bencana kelaparan memakan korban 232 orang, 84 jiwa (Juni 1986), 142 jiwa (Februari 1992), dan 75 jiwa (September 1997).

Kelaparan dan gizi buruk seperti pernah terjadi di Yahukimo dan kemudian Asmat adalah bukti dari ketiadaan edukasi dan pendampingan dalam menjaga tradisi budidaya dan konsumsi pangan lokal. Ditambah pula dengan mulai masuknya produk-produk makanan instan ke Papua lambat laun semakin mengikis memori dan kebiasaan konsumsi kolektif masyarakat terhadap potensi pangan lokalnya. Padahal pangan lokal sejatinya adalah bagian dari identitas pokok setiap kebudayaan manusia di mana pun. Pupusnya tradisi budidaya dan kebiasaan konsumsi pangan lokal dapat berandil pula dalam memupus jatidiri generasi suatu bangsa atau suku bangsa.

Beruntung masih ada aktivis-aktivis pangan Papua seperti "Jungle Chef" Charles Toto yang tak lelah bergerilya menjaga dan menyadarkan masyarakat Papua supaya bangga untuk membudidayakan dan mengkonsumsi pangan lokalnya. Dan, semangat gerilya mereka akan semakin bergaung jika didukung oleh empat pilar keamanan pangan yang menurut Biesalki (2013) dapat mengatasi bencana kelaparan dan malnutrisi, yaitu: ketersediaan bahan makanan, akses ke bahan makanan, kualitas bahan makanan bergizi, dan harga yang terjangkau.

Kenyataannya keempat pilar di atas sejauh ini sulit terpenuhi di Papua. Tak heran kelaparan-kelaparan tersembunyi terjadi dan banyak memakan korban jiwa. Tapi ini bukan semata soal urusan perut belaka. Lebih dalam dari itu, ini soal bagaimana menjaga kelestarian pangan lokal demi menjaga masa depan generasi penerus dari ancaman kelaparan-kelaparan tersembunyi.

Selasa, 06 Februari 2018

Dijual, Rumah Murah Seharga Rp 17.000 per Unit


Ollolai - Pernah bermimpi memiliki sebuah rumah di pedesaan cantik di Italia? Jika iya, berarti impian tersebut mungkin bisa terwujud sekarang.

Dilansir dari laman CNN pada Rabu (31/1/2018), kota Ollolai yang berlokasi di provinsi Barbagia -- dan dekat dengan kepulauan Sardinia di kawasan laut Mediterania – menjual rumah-rumah yang tidak lagi dihuni seharga 1 euro, atau sekitar Rp 17.000 per unitnya.

Ini bukan pertama kalinya kota-kota kecil di Italia menawarkan penawaran serupa.

Namun berbeda dengan Ollolai, kota ini menawarkan lanskap cantik dan suasana tenang khas kawasan desa pesisir, sehingga pembeli akan mendapat keuntungan ganda ketika membeli properti di lokasi ini.

Meskipun begitu, terdapat syarat ketat di balik harga properti yang sangat murah tersebut.

Sebuah rumah pesisir yang dibuat dari 200 susunan batu itu berada dalam kondisi memprihatinkan, sehingga pemerintah setempat mewajibkan pembeli untuk memperbaikinya dalam jangka tiga tahun, yang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 334 juta.

Untuk standar properti di Italia, apalagi rumah kuno di kawasan pesisir, harga tersebut masih terbilang cukup terjangkau, tulis laporan majalah desain dan arsitektur Dezeen.

Di balik tawaran properti yang menggiurkan itu, tersimpan sebuah kegelisahan yang tengah melanda kota Ollolia. Populasi kota itu mengalami penurunan cukup tajam selama hampir setengah abad terakhir, yakni anjlok dari 2.250 jiwa menjadi 1.300 jiwa pada sensus tahun 2015 lalu.

Selain itu, kota Ollolai juga mengalami tingkat kelahiran bayi yang sangat kecil, yakni rata-rata 7 hingga 9 kelahiran setiap tahunnya.

"Kami dihadapkan oleh masalah penurunan populasi penduduk yang sangat mengkhawatirkan," ujar Walikota OIlolai, Efisio Arbau.

"Di saat yang sama, kami juga dituntut untuk menjaga warisan sejarah kota, namun kesulitan karena kekurangan sumber daya manusia. Kami tidak ingin Ollolai mati," lanjutnya.

Selain menawarkan rumah-rumah kosong dengan harga terjangkau, pemerintah Ollolai juga tengah mengupayakan peningkatkan promosi pariwisata kota tersebut, seperti melalui permohonan dana pusat untuk memperbaiki infrastruktur, dan aktif berkampanye di media sosial.

Kota Ollolai tidak sendiri, beberapa kota kecil lainnya di selatan Italia juga menghadapi masalah serupa, yakni penurunan populasi. Dua hal utama yang dituding menjadi penyebab masalah tersebut adalah rendahnya angka kelahiran, dan belum selesainya krisis ekonomi yang menghantam zona Euro, sehingga memicu tingginya angka urbanisasi ke kota-kota besar.

Rumah Mewah Ini Dijual Rp 31 M, Bayarnya Pakai Bitcoin


Hingga saat ini, mata uang virtual bitcoin masih saja menjadi perbincangan yang cukup menarik. Meski banyak negara yang mencekal dan menganggap alat pembayaran satu ini bukan pembayaran yang sah dan diakui, namun tetap saja masih banyak yang meminati untuk menggunakannya.

Kini, telah banyak pedagang yang menerima pembayaran transaksi dari pelanggan dengan menggunakan mata uang virtual bitcoin. Bahkan pembayaran menggunakan bitcoin menjadi tren yang berkembang di pasar real estat. Salah satu real estat yang menerima pembayaran menggunakan bitcoin adalah sebuah rumah di Amerika.

Adalah rumah Middletown, New Jersey, yang secara nominal terdaftar sebesar US$ 2,15 juta atau Rp 29,14 miliar (US$ 1=Rp 13.556) dalam situs Zillow pada akhir Januari.

Namun, daftar tersebut mencantumkan bahwa penjual akan menerima bitcoin sebagai pembayaran berdasarkan harga jual "tidak dapat dinegosiasikan" sebesar US$ 2,3 juta atau Rp 31,18 miliar.

Rumah mahal tersebut diketahui memiliki luas sebesar 5.600 kaki persegi dan berdiri di atas tanah lebih dari 2,6 hektare.


Selama enam bulan terakhir, semakin banyak daftar real estat yang mulai menerima atau meminta kripto biaya untuk pembayaran. Bahkan ada beberapa yang hanya menerima bitcoin sebagai pembayaran.

Bitcoin Real Estate, sebuah situs web yang mengkhususkan diri dalam daftar real estat yang menerima kriptocurrency, mengatakan kepada Mercury News pada akhir Januari bahwa mereka memiliki hampir 400 rumah yang terdaftar di situsnya.

Selain itu, situs real estat Trulia mengatakan kepada Mashable pekan lalu bahwa pihaknya memiliki sekitar 80 daftar yang menyebutkan kripto-kardurrurrency dalam beberapa hal, sementara Redfinmengatakan telah melihat jumlah daftar yang menerima kenaikan kriptokokus dari 75 di bulan Desember menjadi 134 pada bulan Januari.

Sementara itu, Ben Shaoul, presiden Magnum Real Estate Group yang bermarkas di New York, mengatakan kepada CNBC pada bulan Oktober bahwa dia berencana untuk menerima bitcoin sebagai pembayaran untuk kondominium di sebuah bangunan yang saat ini sedang dibangun kembali di Lower East Side Manhattan.

Jika pembeli membayar di sebuah apartemen kecil, yang harganya berkisar US$ 700 ribu sampai US$ 1,5 juta atau Rp 9,48 miliar sampai Rp 20,33 miliar, Shaoul mengatakan bahwa dia akan memegang bitcoin sebagai investasi.

Rumah seluas 1,4 hektar di Lake Tahoe, California, adalah rumah pertama yang berhasil dijual dengan bitcoin pada tahun 2014. Perusahaan ini menjual 2.739 bitcoin, yang dikonversi menjadi US$ 1,4 juta atau Rp 18,97 miliar tunai oleh BitPay, penyedia layanan pembayaran bitcoin global yang berkantor pusat di Atlanta.

Sebagian besar penjualan real estat yang melibatkan kriptocurrency telah berjalan dengan baik. Para pihak sepakat mengenai harga tetap dalam dolar dan kemudian memutuskan nilai tukar yang adil pada saat penutupan.

Bitcoin kemudian dikonversi menjadi uang tunai oleh pihak ketiga, seperti BitPay, yang kemudian diberikan kepada penjual. Oleh karena itu, pembeli menanggung semua risikonya.

Masalah membeli atau menjual real estat dengan bitcoin saat ini--atau kriptokokus lainnya--adalah fluktuasi nilai pada basis sehari-hari, dan bahkan jam ke jam. Apa yang tampak seperti nilai tukar yang adil pada saat itu, bisa terlihat seperti mencuri atau meretas beberapa bulan kemudian.

Pembelian real estat pertama yang diketahui menggunakan bitcoin secara eksklusif (yaitu konversi bitcoin-to-cash) terjadi akhir Desember lalu.

Kecelakaan Bitcoin Ivan "Paychecks" Pacheco membayar 17.741 bitcoin ke Frank Mainade Jr untuk kondominium dua kamar tidur di Upper East Side Miami, dilaporkan oleh The Real Deal. Pada penutupan, itu setara dengan US$ 275 ribu atau Rp 3,72 miliar dengan nilai tukar sekitar US$ 15.500 atau Rp 210,12 juta per bitcoin.

KARTUZOYA | Unik! Bentuk Buah Yang Berbeda Dengan Buah Biasaya, Apa Yang Membuat Bisa Begitu Ya?

Agen Poker Online Buah merupakan salah satu makanan yang kaya dengan vitamin dan baik untuk tubuh manusia, semua orang pastinya sang...